Saturday, June 13, 2009

Kursus menulis

Sebelum memilih topik, sebelum mencari bahan, sebelum menuangkannya dalam tulisan, setiap pengarang (calon penulis) perlu latihan. Seperti pelari ia membutuhkan jogging harian, maka pengarang pun membutuhkan buku harian. Dengan buku hariannya, pengarang berlatih menyusun kalimat bagus setiap hari. Meskipun setiap hari kita melihat langit, belum tentu bisa melukiskan sebagus-bagusnya dengan kata.

Untuk memulai, Anda boleh membuat buku harian. Dalam buku harian, kita bukan hanya belajar mencatat pengalaman dan pengetahuan, tapi juga menggunakan perasaan.

Buku Harian

Dari ranjang ke ranjang adalah bahan terbaik untuk buku harian. Artinya mulai dari kita bangun tidur, sampai nanti kembali tidur. Cerita itu bisa jadi novel. Bisa cerpen, puisi atau laporan ilmiah. Banyak gadis jadi tersohor karena buku-buku harian mereka. Misalnya Kartini dari Jepara, dan Anne Frank di Amsterdam. Buku harian kedua gadis itu membuka mata dunia, bahwa hidup terlalu berharga untuk lewat dalam pikiran.

Kecil atau besar hati manusia memang tercermin dalam buku hariannya. Kebesaran jiwa, keagungan cinta dan kemuliaan persahabatan hati juga tergambar jelas dalam buku harian kita. Tapi itu tidak berarti buku harian merugikan kita. Menulis buku harian, bukan berarti bunuh diri. Justru dengan menulis, kita membangun kepribadian, mengasah keterampilan menulis dan melatih kepekaan kepada kata-kata.

Korespondensi

Kalau mau lebih bagus lagi korespondensi adalah jawabannya. Menulis surat adalah latihan berkomunikasi, sekaligus membentuk kepribadian. Dalam menulis surat kita berlatih memilih dan memilah kata-kata yang pantas untuk pembaca. Dalam hal ini, pembaca bisa berarti teman dekat, ortu, guru, murid, kakek, pejabat maupun orang asing sekalipun yang belum pernah kita kenal di tempat yang jauh.....

[BERLANJUT.. artikel ini bisa Anda baca secara lengkap di: http://menuliskreatif.osolihin.com/2009/06/jurus-jurus-pemula/


Salam,
Tim Menulis Kreatif
http://menuliskreatif.osolihin.com/
e-mail: kursusmenulisonline@gmail.
com
SMS: +628179949470
Telp: +622517115520
Jl. Brigjen Saptaji Hadiprawira, Kp. Pahlawan RT 04/17 No. 29, Cilendek Barat, Kota Bogor 16112

Monday, June 8, 2009

Perbedaan Emas dan Perak

Mana Lebih Baik : Emas Lantakan atau Dinar Emas ?

Antara Emas dan Perak

Tepat seminggu sejak saya tampilkan harga emas real-time disamping harga Dinar real-time yang sudah lebih dahulu tampil; ada pro dan kontra dari penampilan ini.

Oleh: Muhaimin Iqbal

Hidayatullah.com--Sebagiamana biasa yang pro tentu lebih banyak dari yang

kontra. Namun saya coba menjelaskan kepada yang kontra dengan penjelasan tambahan yang panjang lebar ini.

Argumen yang kontra adalah dikawatirkan penyajian harga emas real-time ini akan mengalihkan perhatian pembaca dari pengenalan dan penyebar luasan Dinar sebagai alat tukar yang adil, ke arah emas sebagai investasi semata.

Argumen saya untuk tetap menampilkan informasi yang insyaallah selalu up-todate dan akurat ini adalah karena transparansi informasi ini akan selalu baik dalam mendorong muamalah yang adil dengan kesetaraan informasi; kedua adalah pembaca blog ini tentu melihat isi blog ini secara menyeluruh – bukan hanya sajian tentang harga-harga ini.

Begitu banyak tulisan saya antara lain mengenai harta yang seharusnya berputar, larangan menimbun dlsb. Hendaklah juga dipandang menjadi satu kesatuan dari pesan yang ingin saya sampaikan.

Betul bahwa pengenalan Dinar sebagai alat muamalah (timbangan) yang adil harus lebih diutamakan dari sekedar instrumen investasi dan alat untuk mengamankan hasil jerih payah kita dari kehancuran nilai. Meskipun demikian juga tidak salah apabila pembaca menggunakan blog ini – khususnya pada tampilan pergerakan harga - untuk rujukan investasi Emas dan Dinarnya.

Dalam kaitan dengan yang terakhir inilah (investasi) saya juga ingin mengingatkan pembaca untuk selalu ingat hak orang lain dalam harta kita – minimal dalam bentuk membayar zakat.

Kalau kita disiplin membayar zakat, otomatis dorongan untuk menimbun emas akan berkurang karena emas yang hanya ditimbun akan berkurang dari waktu ke waktu dipotong zakat. Belum lagi ancaman yang keras bagi penimbun harta, baik dalam bentuk emas maupun harta lainnya.

Betul zakat juga harus dibayar dari harta kita yang lain, termasuk Dinar yang di Qiradkan, saham, deposito dlsb. Zakat untuk harta benda orang modern zaman ini pernah saya tulis ketika saya mengenalkan Qirad, namun harta yang berputar insyaallah akan cukup minimal mengimbangi zakat yang harus dibayar ini.

Investasi-investasi seperti saham, deposito dlsb. apabila dibandingkan dengan Dinar dan Emas lantakan akan langsung kehilangan daya tariknya karena hasil yang rendah dan tidak memiliki sifat proteksi nilai – lihat tulisan saya mengenai GeraiDinar’s Investment Guide .

Sementara itu kita juga akui bahwa investasi terbaik adalah investasi sektor riil, lihat tulisan saya tanggal 25 Desember 2007 yang menjelaskan bahwa Dinar hanya nomor dua setelah sektor riil.

Asumsinya dalam tulisan ini adalah kita belum bisa investasi di sektor riil sendiri, kemudian kita juga sudah tidak tertarik lagi dengan deposito, saham, reksa dana dan sejenisnya. Maka pilihan kita tinggal investasi emas lantakan atau Dinar. Dalam dua pilihan yang sama-sama baik dari sisi investasi ini, mana sekarang yang kita pilih ?.

Berikut saya berikan illustrasinya. Pembaca bisa menentukan pilihannya sendiri.

Ambil contoh kasus imaginer pada awal tahun 2000, Pak Fulan memiliki uang Rp 53, 650,241. Separuh dibelikan Dinar pada harga saat itu tepat mendapatkan 100 Dinar; separuh lagi dibelikan emas lantakan pada harga saat itu juga mendapatkan 428.54 gram.

100 Dinar yang dibeli Fulan tersebut di Qiradkan (asumsinya saat itu sudah ada Qirad), sedangkan emas lantakan 428.54 gram disimpan saja karena emas lantakan sampai sekarang-pun belum bisa di-Qiradkan.

Untuk membantu melihat lebih detil perbandingan ini, maka statistik harga Dinar dan emas sejak tahun 2000 sampai 2008 ini disajikan dalam tabel disamping.

Karena Pak Fulan yang sholeh ini taat pada syariat agama ini, maka baik Dinar yang di qirad-kan maupun emas yang disimpannya dia bayar terus zakatnya setiap tahun. Pak Fulan membayar setiap bulan Desember sebesar 2.58% dari emas dan Dinarnya (karena tahun Syamsiah 365 hari sedangkan tahun Qomariah 354 hari rata-rata, maka zakat yang dibayar pada hitungan tahun syamsiah adalah 2.5% x 365/354= 2.58%).

Apa yang terjadi setelah lebih dari delapan tahun berlalu ?.

Kita lihat grafik disamping. Emas yang semula 428.54 gram dan disimpan saja sejak tahun 2000, kini emas tersebut tinggal 338.71 gram setelah setiap tahun dibayar zakatnya 2.58%.

Sementara itu 100 Dinar yang di qiradkan (asumsi hasilnya 4 % per tahun atau Dinar berputar sekali dalam tiga bulan dengan bagi hasil 1 % setiap putaran), saat ini telah menjadi 113.53 Dinar – setelah dibayari zakatnya 2.58% per tahun.

Hasilnya akan lebih baik lagi apabila Dinar yang diQiradkan bisa berputar sekali dalam dua bulan atau memberikan hasil 6% per tahun. Apabila ini yang dicapai maka 100 Dinar Pak Fulan akan menjadi 135.34 Dinar saat ini setelah dibayari zakatnya 2.58% per tahun.

Inilah pentingnya Dinar harus bisa berputar, memang Qirad saat ini baru terbatas pada Qirad untuk pembiayaan pencetakan Dinar yang akan disebar luaskan ke masyarakat. namun insyaallah dalam waktu yang tidak terlalu lama Qirad juga akan diarahkan untuk sektor riil yang insyaallah bisa memberikan hasil yang lebih baik.

Karena nilai emas/Dinar yang terus naik sepanjang 8 tahun terakhir, maka meskipun emas Pak Fulan turun jumlahnya setelah dikurangi zakat – nilainya dalam Rupiah tetap masih terus naik – hanya tidak sebaik kenaikan Dinar yang diqiradkan – lihat grafik disamping sebagai ilustrasi.

Jadi meskipun dari kacamata uang kertas emas dan Dinar sama-sama baik untuk investasi sejauh terus dibayari zakatnya; namun perlu diingat bahwa kalau kita hanya berinvestasi dalam bentuk emas yang disimpan saja – maka sesungguhnya emas tersebut (dari kacamata yang baku emas/Dinar) berkurang terus jumlahnya setiap tahun setelah dikurangi dengan zakatnya (asumsinya lagi emas tersebut masih melebihi nishab emas 20 Dinar atau 85 gram; setelah lebih kecil dari nishab baru berhenti berkurang).

Dari permasalahan inilah bentuk-bentuk investasi riil yang bisa dilakukan dengan emas dan Dinar harus digalakkan terus menerus. Qirad hanyalah awalnya, Program Emas Produktif , Muzaraahdan berbagai instrumen investasi yang adil berbasis emas dan Dinar insyaallah akan terus kita hasilkan. Amin. [www.hidayatullah.com]