Home » » Qonita belajar amar ma'ruf nahi munkar

Qonita belajar amar ma'ruf nahi munkar


Rabu dini hari pukul 01.00 saya masih membaca fatwa-fatwa kontemporer tulisan Dr. Yusuf Al Qardawy, suasana yang senyap membuat saya keasyikan membaca e-book fatwa y ulamak besar ini.Saya merasakan sepertinya waktu dini hari inilah saat yang tepat saya belajar jika tidak barangkali sebelum jam saya masih disibukkan dengan aktifitas anak-anak saya.
Pagi hari Rabu kami mulai sibuk berkemas untuk segera memulai hari-hari sibuk kami, saya berangkat ke kantor anak-anak ke sekolah dan Istri saya harus juga ke kantor. Saya memnyiapkan sarapan pagi sementara istri saya menyiapkan buku-buku dan pakaian ganti yang akan dibawa anak kami, di tengah-tengah kesibukan ini tiba-tiba isri saya cerita :
“abi tadi malam umi sempat ngobrol sama Qonita (putri kami yang pertama), katanya Qonita nggak punya teman di sekolah “ .lantas saya bertanya Umi udah betanya kenapa Qonita tidak punya teman? Udah bi kata istri saya” terus jawabannya apa umi? Qoni bilang kalau dia sering menegur teman-temannya kalau nakal dan
ngomong yang jelek-jelek”. Istri saya kemudian memberikan nasihat kepada anak kami Qonita : “ nggak apa-apa kamu nggak punya teman, kalau teman kamu itu buruk kelakuannya. Begitulah nasihat istri saya kepada Qonita anak kami. Sebenarnya cerita istri saya ini saya anggap biasa saja dan perbincangan kami pagi itu selesai dengan kesibukan mengantar mereka ke sekolah.
Rabu jam 12.15 saya menjemput anak Qonita dan adiknya Faruqi, di tengah perjalanan Qonita cerita lagi masalah tadi pagi tentang dirinya yang tidak punya teman bermain jawaban saya sama dengan istri saya. Setelah makan siang bersama, saya mempersiapkan diri untuk presentasi materi PAI untuk kelas XII IPA, di tengah-tengah kesibukan inilah Qonita menyerahkan sepucuk surat dari temannya, saya kemudian kaget surat yang ditujukan kepada Qonita tersebut berisikan sebuah pernyataan yang menurut usia mereka ini adalah kata-kata yang tabu, bayangkan saja surat tersebut berisi tentang kekecewaan teman anak saya atas sikapnya sampai-sampai si pengirim surat tersebut menuliskan akan bunuh diri karena saking kesalnya terhadap teguran Qonita, barangkali ini satu diantara konsekwensi yang harus kami tanggung bahwa selama ini saya dan istri menanamkan kepada anak kami untuk senantiasa berlaku amar ma’ruf nahi munkar, sehingga bisa jadi dibenak Qonita tertanam bahwa setiap kemungkaran harus ditegur. Seringnya Qonita menegur temannya yang berbuat salah menjadikan temannya merasa tidak nyaman dan berusaha menjauhi dirinya. Ketika cerita ini sampai kepada kami , perasaan yang ada bercampur aduk antara bangga dan miris, betapa tidak kami bangga karena dia bisa beramer ma’ruf miris karena dia dijauhi temannya, ya Allah semoga engkau memberikan kekuatan kepada anak kami agar tetap istiqomah dengan sikapnya, dan hamba-Mu memohon ya Allah lapangkanlah dada anak kami agar dia mampu menghadapi cobaan ini ya Allah. Sebelum tulisan ini saya akhiri mari kita renungkan Firman Allah berikut ini :

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

1 komentar:

  1. ass. yah begitulah anak-anak sekarang yang lebih banyak di didik oleh televisi

    BalasHapus

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan

Google+ Followers

Terbaru

Saat Rindu sahabat terobati dalam pertemuan yang singkat

Gembira,haru berbaur jadi satu, seperti itulah yang dirasakan oleh isteri saya saat berjumpa dengan sahabat lamanya meskipun hanya bebe...

Terhangat