Tuesday, December 22, 2009

Menghargai ibu di hari ibu

 Image079 Siang ini setelah menjemput kedua putra saya di sekolahnya, saya beserta kedua anak saya langsung menuju dapur sekolah. Saya terlambat makan siang hari ini, karena itu secara husus saya izin kepada penanggung jawab bagian dapur sekolah untuk bisa makan siang
Setelah di izinkan saya langsung masuk ke dalam dapur, tapi sebelumnya saya di ingatkan kalau lauk siang ini habis dan diganti telur ceplok, saya membathin lumayanlah kebetulan juga dua anak saya yang ikut makan siang suka lauk telur. Di dalam dapur saya bertemu salah seorang ibu yang biasa masak buat siswa kami, saya langsung bertanya , “ bu kok sendirian yang lain kemana “,
Tanya saya.
Ibu dapur , “ yang lain shalat pak di kamar sebelah”.

Tiba-tiba ibu dapur nyeletuk,” hari ini khan hari ibu “.
Spontan saya menjawab,” oh ya bu saya lupa kalau hari ini hari ibu”.
Saya langsung teringat kejadian tadi pagi saat kami bersiap-siap untuk ke sekolah. Istri saya marah-marah kepada Qonita karena tidak segera bersiap-siap ke sekolah. Saya juga menjadi menyesal kenapa pagi ini saya biarkan istri saya berangkat sendiri tidak saya antar. Ah hari ibu kenapa sering saya lupakan, memon penting menjalin komunikasi dengan istri, mohon maaf saya bukan penganut yang suka mewujudkan sesuatu pada momen tertentu. Sebenarnya ungkapan terima kasih bisa kita ungkapkan kapanpun dan dimanapun, tak perlu menunggu momen. Bentuk penghargaan kepada ibu bisa di wujudkan kepada wanita yang kita cintai termasuk salah satunya adalah pasangan hidup kita . Dalam Islam wujud cinta atau penghargaan terhadap ibu sangatlah banyak hal ini terbukti banyaknya ayat yang menyebutkan kelebihan wanita, berikut beberapa ayat tentang kewajiban berbakti kepada ibu :
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14)
Begitu pula dalam firman-Nya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)
Dari hadits di atas, hendaknya besarnya bakti kita kepada ibu tiga kali lipat bakti kita kepada ayah. Kemudian, kedudukan isteri dan pengaruhnya terhadap ketenangan jiwa seseorang (suami) telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21)
Al-Hafizh Ibnu Katsir -semoga Alah merahmatinya- menjelaskan pengertian firman Allah: “mawaddah wa rahmah” bahwa mawaddah adalah rasa cinta, dan rahmah adalah rasa kasih sayang.
Seorang pria menjadikan seorang wanita sebagai istrinya bisa karena cintanya kepada wanita tersebut atau karena kasih sayangnya kepada wanita itu, yang selanjutnya dari cinta dan kasih sayang tersebut keduanya mendapatkan anak.
Sungguh, kita bisa melihat teladan yang baik dalam masalah ini dari Khadijah, isteri Rasulullah, yang telah memberikan andil besar dalam menenangkan rasa takut Rasulullah ketika beliau didatangi malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama kalinya di goa Hira’. Nabi pulang ke rumah dengan gemetar dan hampir pingsan, lalu berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Demi melihat Nabi yang demikian itu, Khadijah berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Iman no. 160)
Kita juga tentu tidak lupa dengan peran ‘Aisyah. Banyak para sahabat, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, menerima hadits darinya berkenaan dengan hukum-hukum agama.
Kita juga tentu mengetahui sebuah kisah yang terjadi belum lama ini berkenaan dengan istri Imam Muhammad bin Su’ud, raja pertama kerajaan Arab Saudi. Kita mengetahui bahwa isteri beliau menasehati suaminya yang seorang raja itu untuk menerima dakwah Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab. Sungguh, nasehat isteri sang raja itu benar-benar membawa pengaruh besar hingga membuahkan kesepakatan antara Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Imam Muhammad bin Su’ud untuk menggerakkan dakwah. Dan -alhamdulillah— kita bisa merasakan hasil dari nasehat istri raja itu hingga hari ini, hal mana aqidah merasuk dalam diri anak-anak negeri ini. Dan tidak bisa dipungkiri pula bahwa ibuku sendiri memiliki peran dan andil yang besar dalam memberikan dorongan dan bantuan terhadap keberhasilan pendidikanku. Semoga Allah melipat gandakan pahala untuknya dan semoga Allah membalas kebaikannya kepadaku tersebut dengan balasan yang terbaik.
Tidak diragukan bahwa rumah yang penuh dengan rasa cinta, kasih dan sayang, serta pendidikan yang islami akan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Dengan izin Allah seseorang yang hidup dalam lingkungan rumah seperti itu akan senantiasa mendapatkan taufik dari Allah dalam setiap urusannya, sukses dalam pekerjaan yang ditempuhnya, baik dalam menuntut ilmu, perdagangan, pertanian atau pekerjaan-pekerjaan lain.
Kepada Allah-lah aku memohon semoga Dia memberi taufik-Nya kepada kita semua sehingga dapat melakukan apa yang Dia cintai dan Dia ridhai. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabat-sahabatnya. (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz III/348)
Demikianlah Islam memposisikan wanita sebagai mahluk yang mulia dan mempunyai peran besar dalam dakwah dan kehidupan manusia. Namun saat ini ada banyak wanita yang tidak memahami keadaan dan kedudukan dirinya. Hal ini dengan maraknya isu jender, keinginan seorang wanita untuk disamakan dalam semua keadaan dan wkatu. Wal hasil perjuangan atas nama hak asasi manusia ini kemudian tidak memuliakan wanita, yang terjadi justru wanita menjadi ajang exploitasi kaum laki-laki.
Di hari ibu ini mari kita coba menempatkan wanita yang ada disekeliling kita siapapun dia apakah dia ibu kita,anak kita, adik kita atau kakak kita, kita posisikan mereka sesuai perintah agama Insya Allah wanita tidak akan terhina dan terzalim hak-haknya. Wallahu ‘alam
Refrensi :
- http://muslimah.or.id/nasihat-untuk-muslimah/kedudukan-wanita-dalam-islam.html
- Catatan seorang ayah di hari Ibu

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan