Tuesday, December 29, 2009

Ya Allah nyalakan kompor gasku

Img00013
Tiga hari yang lalu saya mengalami sebuah peristiwa yang membuat saya merenung. Kejadian ini memang sebuah peristiwa sehari-hari, yaitu kompor gas saya macet. Awalnya pada suatu sore saya bersama istri membeli seperempat daging ayam dan dua jagung manis, yang rencananya kami mau masak lauk dadar jagung dan ayam tepung kesukaan dua putra kami.
Setelah mencuci beras yang akan kami masak, maka segeralah saya menghidupkan kompor gas yang ada dipojok dapur. Saya heran tidak sepertia biasanya, jika saya menyalakan gas biasanya sekali kami memutar
tombol pemantik maka kompor akan segera menyala, tapi kali ini saya dan istri bergiliran menyalakan hingga lebih dari sepuluh kali kompor tidak mau menyala.
Saya bilang sama istri,” mi barangkali gasnya habis!”.
Istri saya bilang,” belum bi , khan belum satu bulan,”
lalu istri saya melanjutkan,” barangkali kena hujan, bi .”
saya kemudian “menyahut sudah mi kita coba besok.”
Keesokan harinya pagi-pagi saya bangun, saya coba lagi menghidupkan gas namun hasilnya sama seperti kemarin. Karena waktu ke kantor sudah tiba maka kami kemudian berangkat ke sekolah masing-masing. Sore harinya , kami memutuskan untuk mengisi gas barangkali gasnya habis, anehnya belum juga bisa nyala walaupun kami sudah mengganti karet gasnya. Saya kemudian berfikir sambil bergumam ,”ya Allah apa yang salah?, saya semakin sedih karena beras yang sudah kami siapkan ternyata sudah mulai membusuk, demikian juga daging ayam yang kami siapkan terpaksa kami buang karena sudah tidak layak di konsumsi.
Di tengah kegalauan inilah saya mulai menyadari sebuah kesalahan, saya hanya berkata,” barangkali ada yang terlupakan.” Sudah pupus rasanya harapan saya untuk bisa masak sementara setiap hari kami harus mengeluarkan uang untuk beli nasi di warung. Akhirnya di tengah kegalauan hati, jam tiga dini hari saya bangun munajad dimalam hari sambil di setiap sujud saya berdo’a, :
“ ya Allah sungguh saya tidak berkuasa atas segala kehendak-Mu, ya Allah hamba-Mu memohon nyalakanlah kompor gasku ya Allah,”
Demikianlah do’a yang saya panjatkan malam itu. Keesokan harinya setelah shalat subuh saya melangkah ke dapur sambil harap-harap cemas semoga Allah menyalakan kompor gasku, dengan membaca bismillahirrahmanirrahim tangan saya bergerak memutar tombol gas sambil menekannya dan ,”tik”, meyalalah kompor gasku pagi itu, tak lupa saya mengucap Alhamdulillah terima kasih ya Allah Engkau telah menyalakan kompor gasku.
Begitulah, banyak peristiwa kehidupan yang kelihatan secara logika seharusnya berjalan normal namun segalanya tidak ada artinya jika Allah berkehendak lain. Ingatlah wahai saudaraku ternyata setiap apa yang kita lakukan jangan lupa untuk senantiasa mengingat bahwa semuanya ada dalam genggaman kekuasaan Allah walaupun itu sebuah kompor gas Allah tetap mengendalikannya. Maka jangan lupa senantias potongan firman Allah dalam surat Al Fatihah yang berbunyi :
5. hanya Engkaulah yang Kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan[7].
[6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
[7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
Demikianlah sekuat apapun seorang manusia jangan pernah sombong karena semuanya di kendalikan Allah mintalah selalu , ingatlah selalu dan mohonlah kepada Allah agar selalu membantumu di setiap urusanmu sekcil apaun urusan itu

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan