Wednesday, March 3, 2010

Bangkitkan "POWER"mu

Hari minggu kemarin saya bersama istri mengikuti sebbuah training da’i, tak lupa kami membawa serta sua putra kami Qonita dan Faruki. Dalam training tersebut hadir seorang ustadz bersama istrinya menjadi pembicara, saya merasa kagum dengan ustadz Satria saya menyebutnya sebab belum banyak ustadaz yang mampu menjadi trainer berdua dengan istrinya. Sunnguh saya iri melihat mereka berdua begitu terlihat serasi dan sejalan dalam memapakrkan materi, yang membuat saya terhau ditengah-tengah training beliau berdua sempat menampilkan putranya yang ketiga untuk melakukan tasmi’ hafalan AlQur’an surat Al Ma’idah. Ustadz Satria yang selama ini hanya saya kenal lewat buku yang sempat kami beli ternyata orangnya berperawakan tinggi yang bayangan saya sebelumnya orangnya kecil. Dalam training kali ini beliau menyampaikan betapa mulianya profesi seorang murabbi (guru) beliau menekankan kepada setiap murabbi tidak hanya memberikan materi akademik saja tetapi murabbi yang baik adalah murabbi yang mampu
membuat sebuah Halaqoh (pengajian minguan rutin) mempunyai dinamisasi dan para mutarabbinya (murid) mampu menghasilkan karya dengan membina oarang lain, beliau juga menekankan agar dalam halaqah mempunyai kegiatan yang inovatif tidak monoton dan membosankan. Karena itu beliau membagi tipe halaqah sebagai berikut :


1. halaqah monoton / menjenuhkan

2. Halaqah Dinamis

Dua tipe halaqah tersebut akan menghasilkan tiga kinerja yaitu : kinerja rendah, kinerja sedang dan kinerja maksimal (sukses). Agar kinerja ini menjadi tetap satbil maka di perlukan sebuah “ POWER” yang beliau tejemahkan menjadi

1. P = pelajari sejarah orang besar

2. O= Obati hati dengan Al Qur’an

3. W= Waspada terhadap maksiat

4. E = Enyahkan malas beribadah

5. R= Rutin ikut tarbiyah

Inilah kunci atau trik yang harus dilakukan agar seorang da’i agar tidak mudah futhur ( pesimis/ngambek). Bagi saya seorang da’i memang harus senantiasa menstabilkan ruhiyahnya agar dalam membina umat tidak mudah putus asa dalam membina umat. Da’i juga dituntut menjadi tauladan bagi obyek dakwah sehingga apa yang diucapkanny adalah sesutau yang telah dilakukannya, keberhasilan dakwah nabi tidak lain karena beliau melakukan apa yang dikatkannya dalam sebuah firman Allah dijelaskan sebagai berikut :

“ Sangatlah dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan” (As Shof :3)

Demikianlah Allah memberikan peringatan bagi da’i yang tidak memberikan tauladan, semoga kita termasuk da’i-da’i yang senantiasa menjaga semngat menyebarkan dan mempraktikkan apa yang kita ucapkan




0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan