Monday, March 8, 2010

Tanda Cinta

Akhir-akhir ini kami sekeluarga sedang menghadapi ujian kehidupan, betapa tidak penyakit dan ujian datang silih berganti. Mula-mula Qonita di minggu terakhir bulan Maret anak kami yang pertama ini di uji oleh Allah dengan sakit radang tenggorokan, selama tiga hari, jika malam tiba suhu badannya panas sekali anehnya kalau siang Qonita bisa bermain dengan leluasa.

Ujian kedua istri saya batuk-batuk yang tak kunjung sembuh jika malam hari terkadang saya meruasa kasihan sebab dahsyatnya batuk menyebabkan istri saya harus sering bangun untuk membuang dahak ke kamar mandi.

Ujian ketiga Allah menguji atau bisa jadi sebuah teguran bagi saya untuk senantiasa berhati-hati. Suatu hari pulang dari sekolah tanpa banyak bicara kami segera turun dari kendaraan sepeda motor merk Yamaha jika suda sampai di depan rumah. Namun entah kenapa hari itu saya kurang hati-hati tanpa saya sadari betis sebelah kanan kaki saya “tersengat” knalpot sepeda, tak ayal betis saya terasa seperti terbakar, astagfirullah ucap saya sambil bergumam “ inilah panas api di dunia padahal jika terkena api di akhirat jauh lebih panas”.

Kerasnya rasa panas dan nyeri yang sangat pada betis kanan saya telah membuat saya cukup kerepotan.Beberapa hari kesehatan saya menurun disebabkan nyeri luka bakar di betis saya, menurunnya kesehatan saya ini menyebabkan saya terpaksa ijin tidak ke kantor sehari, teguran Allah tidak sampai di situ.Lagi-lagi saya diuji pada saat kami bersantai setelah pulang dari sekolah kami biasanya bercengkarama bersama anak-anak sambil tidur-tiduran. Tanpa diduga Faruqi anak kedua kami bangun untuk mengambil barang-barang uminya tanpa sengaja Faruqi menginjak betis saya yang yang terkena sengatan kenalpot dan pecahlah kantung air luka bakar dibetis saya dan serta merta mengeluarkan cairan yang sangat panas sakitnya persis saat pertama terjadinya sengatan.

Ujian yang keempat hari Senin tanggal 8 Maret badan saya masih belum terlalu sehat namun saya paksakan untuk tetap kekantor. Pukul 11.00 seharusnya saya menjemput Faruqi tapi hari itu saya agak letih dan beristirahat di kantor sejenak merebahkan badan di atas sofa sambil menunggu waktu zuhur tiba. Setelah zuhur saya segera meminta Bagas salah seorang siswa SMA menjemput Qonita dan Faruqi di sekolahnya. Setengah jam kemudian Bagas bersama anak sayapun tiba di kantor, saya heran saat melihat saya tidak biasanya Faruqi berlari kearah saya sambil menangis, pada saat say memluknya Faruqi bercerita kalau gusi atas giginnya luka terkena lemparan ayunan besi oelh temannya. Tanpa berfikir panjang saya segera mengajak anak saya pulang sebab saya melihat gusinya berdarah terus, tiba dirumah saya segera mengambil kapas dan mengompres gusinya dengan kapas. Saya merasa menyesal megapa saya tidak menjemputnya segera, saya hanya bisa mengucap astagfirullah ya Allah inilah tanda sayang-Mu kepada kami Enkau menegur kami atas kelalaian kami selama ini terima kasih ya Allah jadikannlah ujian ini sebagai kafarat dosa-dosa kami.

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan