Kisah belas kasihan Rasulullah kepada pelaku kesalahan

Kebijaksanaan Rasulullah banyak disebutkan dalam kitab-kitab sejarah ,salah satu yang mashur adalah cerita tentang Rasulullah memaafkan seorang sahabat yang berbuat kesalahan.Apabila pelaku kesalahan itu menunjukkan penyesalan atas kesalahan-kesalahannya dan bertobat secara sungguh-sungguh, maka Nabi Saw memperlihatkan belas kasihan kepadanya. Hal ini sebagaimana yang pernah terjadi pada sejumlah orang yang minta fatwa kepada beliau.

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Abu Hurairah r.a berkata, “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah Saw, seorang laki-laki datang seraya berkata, “Wahai Rasulullah, binasalah aku!”

Rasulullah bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”

Laki-laki itu menjawab, “Aku telah melakukan hubungan suami-istri dengan istriku padahal aku sedang berpuasa Ramadhan.

Lalu Rasulullah Saw bertanya, ‘Apakah ada seorang hamba sahaya yang kamu merdekakan?”

Dia menjawab, “Tidak.”

Nabi bertanya lagi, ‘Mampukah kamu melakukan puasa selama dua bulan berturut-turut?”

Dia menjawab, “Tidak.”

Nabi bertanya lagi, “Apakah kamu mampu memberi makan sebanyak enam puluh orang miskin?”

Dia menjawab, “Tidak.”

Abu Hurairah berkata, “Nabi Saw terdiam sejenak lalu pergi. Pada saat kami masih dalam keadaan terdiam seperti itu, beliau datang membawa sekeranjang kurma seraya bersabda, ‘Mana orang yang bertanya itu?”

Laki-laki itu menjawab, “Aku di sini.”

Nabi berkata, “Ambillah kurma ini dan bersedekahlah dengannya.”

Lalu laki-laki itu berkata lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah sedekah ini harus aku berikan kepada orang yang lebih miskin daripada aku? Demi Allah, tidak ada satu keluarga pun di antara dua distrik perkampungan ini yang lebih miskin dari aku!”

Mendengar jawaban dengan kata-katanya ini, Rasulullah tertawa hingga tampak gigi gerahamnya seraya bersabda, ‘Berilah keluargamu makanan dengan kurma ini.”

Sumber : www.hudzaifah.org  Kitab “Cara Nabi Saw Menegur dan Meluruskan Kesalahan”, Salih Al Munjid 


Send this story to someone

Rencana sederhana Qonita


Hari Minggu kami diundang untuk meghadiri acara Forum kelas. Forum kelas dimaksudkan untuk menjalin silaturrahim antar wali kelas dan sebagai sarana komunikasi sekolah dengan wali siswa Qonita anak kami yang pertama jauh hari telah mengingatkan kami untuk hadir dalam acara tersebut. Begitu besar keiniginan Qonita untuk hadir dalam acara forum kelas membuat saya dan istri luluh juga menghadapi rayuan Qonita, setelah berunding dengan istri kami memutuskan untuk mengikuti acara tersebut kebetulan juga kami sedang tidak ada acara.
Minggu 23 Mei pagi buta kami telah berkemas, saya mencuci pakaian seragam anak-anak, sementara istri saya menyiapkan pakaian yang akan digunakan anak kami untuk mengikuti acara forum kelas. Saat kami sedang sibuk menyiapkan pakaian Qonita memilihkan pakaian yang harus mereka pakai. Tiba-tiba saja Qonita bilang sama uminya :
Qonita : “ umi saya sudah menyiapkan pakaiann saya sendiri”
Umi      : “ yang mana bajunya mbak(panggilan Qonita).”
Qonita : “ itu lo ……celana panjang warna pink umi”
Umi      : “ kenapa kamu tidak memakai rok yang udah disiapkan umi”
Qonita : “ soalnya sejak kemarin saya berencana bersama teman-teman untuk main hantu-hantuan, jadi iar larinya kencang saya pakai celana umi”. Jawab Qonita  

Ketika janji melenceng


Minggu kedua bulan Mei saya dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang dalam benak saya tidak terfikirkan sebelumnya. Hari itu hari Selasa menjelang dzuhur  saya sedang  asik dikantor mengerjakan beberapa laporan kegiatan siswa, tiba-tiba saja suara Faruqi terdengar di telinga saya. Suara tersebut menyadarkan saya pada tugas rutin sebagai seorang ayah menjemput Faruqi di sekolah.

Karakteristik Ekonomi Islam

Dr. H. Surachman Hidayat, MA
(Dosen Luar Biasa STEI Tazkia)

Sebutan “Ekonomi Islam” melahirkan kesan beragam. Bagi sebagian kalangan, kata ‘Islam’ memposisikan Ekonomi Islam pada tempat yang sangat esklusif, sehingga menghilangkan nilai kefitrahannya sebagai tatanan bagi semua manusia. Bagi lainnya, Ekonomi Islam digambarkan sebagai ekonomi hasil racikan antara aliran kapitalis dan sosialis, sehingga ciri khas khusus yang dimiliki oleh Ekonomi Islam itu sendiri hilang.

Padahal sebenarnya Ekonomi Islam adalah satu sistem yang mencerminkan fitrah dan ciri khasnya sekaligus. Dengan fitrahnya Ekonomi Islam merupakan satu sistem yang dapat mewujudkan keadilan ekonomi bagi seluruh umat. Sedangkan dengan ciri khasnya, Ekonomi Islam dapat menunjukkan jati dirinya – dengan segala kelebihannya -- pada setiap sistem yang dimilikinya.

Ekonomi Rabbani menjadi ciri khas utama dari model Ekonomi Islam. Chapra menyebutnya dengan Ekonomi Tauhid. Tapi secara umum dapat dikatakan sebagai “divine economics”. Cerminan watak “Ketuhanan” ekonomi Islam bukan pada aspek pelaku ekonominya -- sebab pelakunya pasti manusia -- tetapi pada aspek aturan atau sistem yang harus dipedomani oleh para pelaku ekonomi. Ini didasarkan pada keyakinan bahwa semua faktor ekonomi termasuk diri manusia pada dasarnya adalah kepunyaan Allah, dan kepadaNya (kepada aturanNya) dikembalikan segala urusan (3: 109). Melalui aktivitas ekonomi, manusia dapat mengumpulkan nafkah sebanyak mungkin, tetapi tetap dalam batas koridor aturan main..”Dialah yang memberi kelapangan atau membatasi rezeki orang yang Dia kehendaki” (42: 12; 13: 26). Atas hikmah Ilahiah, untuk setiap makhluk hidup telah Dia sediakan rezekinya selama ia tidak menolak untuk mendapatkannya (11: 6). Namun Allah tak pernah menjamin kesejahteraan ekonomi tanpa manusia tadi melakukan usaha.

Sebagai ekonomi yang ber-Tuhan maka Ekonomi Islam -- meminjam istilah dari Ismail Al Faruqi -- mempunyai sumber “nilai-nilai normatif-imperatif”, sebagai acuan yang mengikat.. Dengan mengakses kepada aturan Ilahiah, setiap perbuatan manusia mempunyai nilai moral dan ibadah. Setiap tindakan manusia tidak boleh lepas dari nilai, yang secara vertikal merefleksikan moral yang baik, dan secara horizontal memberi manfaat bagi manusia dan makhluk lainnya. Nilai moral “samahah” (lapang dada, lebar tangan dan murah hati) ditegaskan dalam Hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, sebagai prasyarat bagi pelaku ekonomi untuk mendapatkan rahmat Ilahi, baik selaku pedagang, konsumen, debitor maupun kreditor. Dengan demikian, posisi Ekonomi Islam terhadap nilai-nilai moral adalah sarat nilai (value loaded), bukan sekadar memberi nilai tambah (added value) apalagi bebas nilai (value neutral).

Bagi paham ekonomi naturalistis sumber daya alam adalah faktor paling penting. Sedangkan bagi aliran monetaris yang terpenting adalah modal finansial. Tapi bagi ekonomi Islam sumber daya manusialah (humane capital), yang ternilai, sebagai kuncinya. Al Quran memposisikan manusia sebagai pusat sirkulasi manfaat ekonomi dari berbagai sumber daya yang ada ( 14: 32-34). Sekaligus sebagai penerima amanah “khilafah” dari Allah SWT, memakmurkan kehidupan di muka bumi dengan mengolah sumber daya yang Dia sediakan (11: 61).

Karakter ini merupakan derivasi dari karakter ummat Islam sebagai “Ummatan Wasathan”(Umat Moderat) (2:143), yang mengemban tugas sebagai “syuhada” yakni rujukan kebenaran dan standar kebaikan bagi umat manusia (A. Yusuf Ali:58). Dalam pencermatan beberapa kitab tafsir, posisi “wasathan” mempunyai lebih dari satu konotasi makna. Yang pertama maknanya “tawassuth” yakni moderat. Kedua bermakna “tawazun” yakni seimbang (balance).

Ketiga bermakna “khairan” yakni terbaik dan alternatif. Itu artinya, dalam Islam dan ekonomi Islam tidak ada tempat untuk ekstrimitas. Baik ekstrimitas kapitalis maupun sosialis. Ekonomi Islam memuji “si kaya” yang mengelola hartanya secara benar, tetapi juga sangat peduli utuk memberdayakan “fuqara”. Kebijakan politik ekonomi Islam tak pernah segan untuk menindak si kaya yang tidak menunaikan hak-hak sosial dari hartanya, dan “menjewer” fuqara yang meminta belas kasihan karena malas. Ini menempatkan Ekonomi Islam sebagai ekonomi alternatif atau “khairan”, dan nilai lebih itu diakomodasikan tanpa keraguan.

Islam memerintahkan kepada manusia untuk berkoperasi dalam segala hal, kecuali dalam perbuatan dosa secara vertikal dan permusuhan horizontal (5:3). Pelaksanaannya dapat dilakukan secara bilateral, multilateral, dari tingkat lokal hingga global, tanpa harus dihambat oleh perbedaan apapun juga (49:13). Perwujudan pola kerjasama yang dianjurkan Islam dapat dilakukan dalam skema apapun, tetapi tetap berlandaskan adanya upaya perealisasian wujud tolang-menolong yang sesungguhnya. Demi tegaknya keadilan, Allah telah meletakkan “mizan”, suatu timbangan akurat yang paling objektif. Siapapun tidak boleh melanggarnya (36: 7). Siapapun tidak dibenarkan jadi korban ketidak adilan.

Itulah Ekonomi Islam, yang bersifat Ilahiah-insaniah, terbuka tapi selektif, toleran tapi tak kenal kompromi dalam menegakkan keadilan. Semua itu untuk kesejahteraan umum di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Tips melihat peluang bisnis

Teman Blogger saya dapat kiriman cara jitu menangkap peluang bisnis, atau bisnis yang paling jitu di online-kan begini katannya :
Saya sering mendapatkan pertanyaan begini:

Saya belum buat website dulu mas, soalnya saya nggak tahu
harus jualan apa?

Apakah Wardi mempunyai pertanyaan yang sama?

INI yang bisa dijual, jika sudah mempunyai website
sendiri:

1. Produk sendiri.

Produk sendiri bisa produk nyata, atau produk informasi.
Banyak sekali orang yang sukses di Internet dan menjadi
KAYA dengan menjual produk informasi. :)

Tapi harus dipelajari bagaimana caranya. :)

Apa saja yang termasuk produk informasi? Ebook,
software, domain, audio, video, kursus online, games,
dll. :p

Banyakkan?

Lebih tepatnya, semua yang saya sebut barusan adalah
produk digital.

Artinya bisa langsung didownload, tanpa perlu ongkos
kirim.

2. Produk Orang Lain.

Contohnya? Banyak, misalnya saya menjualkan produk teman
yaitu Panduan Membuat Blog dengan Wordpress. Lihat di:
http://script-reseller.com

3. Jual space iklan aja.

Banyak sekali orang yang mau pasang iklan di Internet.
Dan mereka bersedia bayar jika kita menyediakan website
dengan banyak kunjungan. Bahkan mereka akan membayar per
click. Wah bidang periklanan ini emang gila-gilaan.

Salah satu misalnya? kliksaya.com

Jadi, intinya, membuat website itu sangat perlu.

Harus bisa sendiri, supaya nggak tergantung orang lain
dan bisa buat lagi dan lagi.

Yang penting sederhana, murah, cepat dan profesional.

Ingat ya! :)

Mantap!

Kusuma
Owner http://www.caramembuatwebsite.com/index.php?id=ksuryani

PS: Panduan Membuat Website saya juga termasuk produk
informasi yang bagus sekali dijual di internet.

Jika belum memiliki, Miliki sekarang: http://www.caramembuatwebsite.com/index.php?id=ksuryani


*******************************
Jangan BALAS Email ini, karena saya tidak akan menerimanya,
Jika ANDA ada pertanyaan, silahkan gunakan http://caramembuatwebsite.com/support/ Untuk bertanya apa saja!
*******************************


Click below to CANCEL or EDIT your subscription:
http://kerjakeras.com/arkus/ar/r.php?s=52126&a=1&k=8efabba2570e5321327c53c0d1aa3872

Google+ Followers

Terbaru

Saat Rindu sahabat terobati dalam pertemuan yang singkat

Gembira,haru berbaur jadi satu, seperti itulah yang dirasakan oleh isteri saya saat berjumpa dengan sahabat lamanya meskipun hanya bebe...

Terhangat