Monday, June 7, 2010

Fatimah binti Khatthab: Menghantar Umar Al-Faruq Memeluk Islam

Wanita identik dengan mahluk lemah, namun demikian dibalik sifat lemahnya terdapat kekuatan yang mampu merubah seorang suami yang lemah menjadi kuat. Satu diantara wanita sahabat Nabi yang mampu menaklukkan hati seorang laki-laki yang dikenal sulit di taklukkan postingan kali ini akan menceritakan bagaimana seorang Fatimah menaklukkan Umar yang terkenal dengan kegarangannya sebelum memeluk Islam.
Fatimah adalah putri Khatthab bin Nufa’il al-Makhzumi al-Quraisy, seorang mulia berderajat tinggi dan utama di kalangan orang Arab. Ibundanya adalah Hamtamah binti Hasyim bin Mughirah.

Fatimah binti Khatthab memiliki peran penting di masa awal dakwah Rasulullah SAW. Dia termasuk  salah seorang shahabiyah yang pertama berbaiat di hadapan Rasulullah SAW. Demikian juga suaminya, Said bin Zaid. Beliau memberi contoh mulia bagi setiap muslimah dalam hal menyembunyikan dan menjaga rahasia. Sebagai bentuk perlindungan, terhadap Islam dan terhadap Rasulullah SAW. Dia juga mempraktikkan keteladanan dalam keberanian.
Nikmat besar yang sangat disyukurinya adalah atas izin Allah, ia berhasil menghantar sang kakak, Umar bin Khatthab memeluk Islam. Sebagaimana permohonan Nabi Muhammad saw kepada Allah, agar menguatkan Islam dengan salah satu dari dua Umar.

Umar bin Khatthab memeluk Islam

Umar bin Khatthab RA, mengisahkan tentang dirinya masuk Islam. Beliau RA berkata,  aku keluar rumah tiga hari sesudah masuk Islamnya Hamzah RA. Aku bertemu dengan Nu’aim bin Abdillah al-Makhzumi. Aku katakan kepadanya,” Apakah kamu benci agama bapak moyang kamu  dan lebih cenderung kepada agama Muhammad?”
Dia menjawab, “Orang yang lebih besar haknya atas dirimu saja sudah melakukan hal ini.”
“Siapa dia?”.
“Adikmu, Fatimah dan iparmu, yakni suaminya, Said bin Zaid.
Aku bergegas menuju rumah adikku. Kudapati pintunya terkunci, tetapi aku mendengar dengungan suara dari dalam rumah. Ketika pintu terbuka, akupun masuk. Akupun bertanya,” Suara apa yang kudengar tadi ?”.
Fatimah membantah,” Aku tidak mendengar apa-apa.” Kami terus berbantah-bantahan, hingga akhirnya kupegang kepalanya. Fatimah berkata,” Semua ini akan mencelakakanmu, aku malu ketika aku melihat darah.”
Aku berkata,” Perlihatkan kepadaku kitab yang kudengar kalian membacanya tadi.”
Fathimah menjawab, “Kami mengkhawatirkan kamu atasnya.”
Kukatakan, “Kamu jangan khawatir. Aku bersumpah demi tuhan-tuhan itu, aku pasti mengembalikannya apabila aku sudah membacakannya kepada mereka.”
Adikku berkata, “Tidak menyentuhnya kecuali makhluk-makhluk yang disucikan.” Lantas Aku mandi dan kubaca:
1. Thaahaa.
2. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;
3. tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
4. Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
5. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arasy.
6. kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.
7. dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, Maka Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.
8. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik),

Aku berkata, “Betapa bagusnya ucapan ini dan betapa mulianya.”
Ketika Khabbab bin al-Arrat mendengar pembicaraan ini, maka ia pun keluar dari persembunyiannya di belakang rumah Fatimah. Dia bersembunyi ketakutan ketika mendengar suara Umar mengetuk pintu.

Khabbab berkata, “Wahai Umar, sesungguhnya aku berharap agar Allah mengkhususkan engkau dengan doa nabi-Nya. Sesungguhnya aku mendengar pada suatu sore Beliau SAW berdo’a,” Ya Alloh, kuatkanlah Islam dengan Abul Hakam bin Hisyam atau dengan Umar bin Khatthab” (dalam riwayat lain disebutkan: “Kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar”).

Aku berkata kepada Khabbab,” Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad berada. Aku akan datang menemuinya untuk masuk Islam”. Khabbab mengajakku kerumah Arqam bin Abil Arqam (di dekat bukit Shafa) sampai aku mengikrarkan Islam di hadapan Rasulullah SAW. Pada saat itu, Rasulullah saw langsung bertakbir, demikian juga para sahabat di sana, dan juga mengumandangkan tahlil. Mereka menampakkan kegembiraan mereka (Ma’rifah ash-Shahabah, Abu Nu’aim al Ashbahani, 7145, hasan).
Subhanalloh, Alhamdulillah, Allahu Akbar !!!

Demikianlah, kisah Umar bin Khatthab memeluk Islam. Yang tidak dapat dilepaskan dari peran besar sang adik, Fatimah. Yang sudah lebih dulu memeluk Islam. Dan menunjukkan ketegarannya, walaupun darah sempat mengucur di wajahnya … Saat berseteru dengan sang Al Faruq, Umar bin Khatthab. Tidak ada kemarahan, apalagi sakit hati padanya. Bahkan, ia tetap penuh semangat, mendorong sang kakak untuk memeluk Islam.

Semoga kita semua, para muslimah dapat mengambil ibrah dari kisah di atas. [ummu izzah/voa-islam.com]

Maroji’: Ali bin Nayif asy-Syuhud, Kisah Shahabiyah: Mawar-mawar Padang Pasir (judul asli: Masyahir an-Nisa’ al Muslimat).

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan