Tuesday, March 7, 2017

Optimisme tukang ojek

Demo tolak angkutan Online di kota Malang
Situsmawardi.com- Kota Malang ahir-ahir ini agak memanas disebabkan terjadinya demo angkutan kota. Para sopir angkutan kota mulai merasa kehilangan penumpang karena maraknya angkutan yg berbasis online, demikian juga dengan ojek konvensional yang juga merasa tersaingi dgn munculnya ojek berbasis aplikasi.Namun ditengah-tengah munculnya demo tersebut, ada cerita optimisme seorang tukang ojek,diceritakan oleh seorang ustadz. Mari kita belajar sejenak dari cerita berikut ini :


Tadi sore saya naik ojek. Seorang bapak berusia 63 tahun mengantarkan saya dengan sepeda motor yang agak tua. Perjalanan agak santai. Tidak ngebut, meskipun dari kiri dan kanan kami satu persatu sepeda motor mendahului.

Kepada bapak dari tiga anak itu _saya bertanya," “Ngapunten Pak, apa panjenengan tidak merasa terganggu oleh kehadiran ojek online?”

Luar biasa jawaban Pak Ojek itu. Kata beliau, “Mboten mas. Rizki sudah ada yang ngatur. Jatah saya tidak akan diambil orang lain.” Maa syaa Allah.

Dengan tenang Pak Ojek itu melanjutkan jawabannya, “Masalah penghasilan bukan banyak atau sedikit, mas. Yang penting ‘cukup’.
Dulu sebelum ada ojek online penghasilan saya cukup untuk menghidupi keluarga. Alhamdulillah, tidak ada yang berubah. Sekarang juga cukup untuk hidup bersama istri dan satu cucu di rumah.” Tiga anak bapak ini sudah berkeluarga. Semuanya tinggal di Jakarta.

Tak disangka, Pak Ojek yang mengantarkan saya ini pernah memiliki 12 metro mini. Sejak 1971 hingga 2005 beliau tinggal di Jakarta. Terakhir, kata beliau, dari satu metro mini beliau menerima setoran bersih Rp. 250.000 per hari. Praktis,  per hari beliau menerima setoran bersih Rp. 3.000.000.

๐Ÿ‚ Situsi berubah. Kata Pak Ojek yang biasa mangkal di salah satu terminal itu, maraknya kredit sepeda motor tanpa uang muka menjadikan Jakarta banjir sepeda motor. Akibatnya, metro mini sepi. Penumpang berkurang. Setoran pun menurun. Akhirnya, tahun 2005, Pak Ojek itu memutuskan "menjual 12 metro mininya dan kembali ke kampung halaman."

Tak ada beban pada Pak Ojek itu saat bercerita masa-masa surut bisnisnya. Kata beliau, ๐ŸŽˆ“Sudah masanya, mas. Dulu metro mini jaya. Sekarang masanya bus Trans yang kehadirannya juga mematikan bus kota. Boleh jadi, sekarang masanya ojek online. Tapi, rizki masing-masing orang sudah ada jatahnya. Yang penting disyukuri.”

Menjelang sampai tujuan, Pak Ojek yang sekarang tinggal di Krian itu berkata, ๐ŸŽ–“Yang sulit itu mas, tidak iri pada rizki orang lain. Tapi, ya harus berusaha membersihkan hati dari iri. Wong… teman-teman yang ngojek online juga sama seperti saya, mas. Mereka juga mencari makan untuk keluarganya.”

Tak terasa saya sudah sampai tujuan. Alhamdulillah dapat ilmu berharga dari Pak Ojek:
๐Ÿ’ _masing-masing orang sudah ada jatah rizkinya, rizki saya tidak akan diambil orang lain, yang penting disyukuri, dan hati harus bersih dari iri pada orang lain.

Saya pun teringat dengan ungkapan Hasan al Bashri –rahimahullah- yang sangat masyhur:

ุนَู„ِู…ْุชُ ุฃَู†َّ ุฑِุฒْู‚ِูŠْ ู„َุง ูŠَุฃْุฎُุฐُู‡ُ ุบَูŠْุฑِูŠْ، ูَุงุทْู…َุฃَู†َّ ู‚َู„ْุจِูŠْ

"Aku tahu bahwa rizkiku tidak akan diambil orang lain, maka tenanglah hatiku".

๐Ÿ”… Semoga Allah -azza wa jalla- memberkahi rizki dan keluarga para tukang ojek, baik yang offline maupun online.

Wallahu alam bisshawab
๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿ’ ๐Ÿ”…๐Ÿ’ ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ
Malang, 27 Jumadil Awal 1438H
๐Ÿ“กJoin Telegram:
http://tlgrm.me/ahmadjalaluddin
๐ŸŒWebsite:
http://tazkiyatuna.com

2 comments:

  1. Besar hati sekali bapak tukang ojeknya ya mas.. Reminder buat diri saya sendiri. Nggak boleh lupa bersyukur.. Terimakasih artikelnya..

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah kalau si bapak bisa bersabar. AKu sendiri baru 3x pakai ojek offline & mereka memang mahal, 2x lipat tarif ojek online. Kalau naik ojek online baru 2x.

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan