Friday, October 20, 2017

Hikmah dari sebuah kematian


Kematian adalah sebuah kepastian, semua yang bernyawa pasti akan mengalami. Kematian akan datang kapan saja, ia tidak pernah mengenal kompromi umur dan kondisi. Maka menjadi kewajiban seorang hamba untuk bersiap-siap menghadapi dalam segala kondisi. Manusia hanya menjalankan taqdir yang telah ditentukan oleh yang Maha hidup.  Beberapa hari yang lalu saya bertakziyah atas  meninggalnya anak seorang teman saya, umur sang anak baru 5 bulan dalam kandungan. Sang anak terpaksa harus lahir dalam keadaan premature sebab ibunya mengalami pendarahan. Sempat menghirup udara dunia beberapa jam namun Allah mentaqdirkan lain, rupanya sang anak terlalu lemah untuk melanjutkan kehidupan didunia yang keras ini.

Sehari setelah pemakaman sang anak, ibunya menulis status di FB yang menunjukkan kesedihan mendalam ditinggal sang anak.Status itu kemudian dikometari beberapa teman di FB dengan nsehat bersabar, dan agar tabah menerima taqdir ada juga doa semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Sementara sang suami yang tidak lain teman sejawat dikantor, tampak tabah dan menerima ketentuan sang penguasa Jiwa. Peristiwa ini membawa hikmah tersendiri bagi saya, bahwa usia bukan jaminan untuk bisa hidup lama didunia sebab kematian tidak pernah memandang usia. Dua hari lalu saya coba bertanya kepada teman saya, apa penyebab terjadinya keguguran pada isterinya?. Ia mengungkapkan,  bahwa isterinya mengalami keguguran bisa jadi disebabkan mobilitas tinggi sang isteri, mengendarai sepeda pada usia kandungannya telah mencapai usia lima bulan. Ketika mengendarai sepeda itulah mungkin terjadi goncangan-goncangan pada kandungannya sehingga terjadi kontraksi.

 Cerita ini menjadi hikmah bagi kita, bahwa saat-saat usia rawan kandungan seorang ibu, hendaknya ia mengurangi kegiatan-kegiatan yang memerlukan mobilitas tinggi misalnya berkendara,dinas luar dan sebagainya. Resikonya sangat tinggi salah satunya adalah keguguran atau kelahiran prematur sang bayi. Hikmah ketiga ini untuk para atasan yang punya karyawati dari golongan ibu-ibu hamil, alangkah bijaknya jika dalam menentukan kebijakan untuk karyawati ibu-ibu hamil tidak mendelegasikan pekerjaan yang tergolong berat bagi mereka demi keselamatan sang bayi dan ibu. Semoga kejadian ini menjadi sarana kita untuk berhati-hati.  

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan