Monday, January 22, 2018

Berbahagialah Wahai guru TPQ

Menjadi guru TPQ (taman pendidikan Qur’an)  mungkin bagi sebagian orang bukanlah profesi yang menjanjikan dari sisi materi. Gaji seorang guru TPQ, tidaklah mencukupi untuk biaya hidup disebuah kota, apalagi di kota Pariwisata seperti Batu misalnya. Jam kerja seorang guru TPQ sepanjang pengetahuan penulis tidak lebih dari dua setengah jam, mulai setelah Ashar hingga menjelang magrib. Ada juga yang dimulai dari setelah magrib hingga isya’, jika ditambah sedikit paling maksimal hingga jam Sembilan malam.


Keberadaan guru TPQ juga tidak banyak diperhitungkan, karena itu kadang kesejahteraan mereka sering luput dari pembuat kebijakan. Penulis sendiri pernah menjadi guru TPQ era tahun Sembilan puluhan, dikampung halaman disebuah musholla yang para penduduk sekitarnya rata-rata sebagai petani dan buruh. Mengenang masa itu, menjadi sebuah kenangan yang tersimpan rapi dalam memory kehidupan penulis. Sebab masa-masa itu, adalah masa dimana  intesitas berinteraksi dengan anak-anak menjadi mayoritas dalam kehidupan penulis saat itu.

Kembali tentang guru TPQ, dibalik kehidupan guru TPQ yang penuh dengan kesederhanaan ada potensi amal jariyah menjanjikan. Entah sadar atau tidak sebenarnya guru TPQ berperan penting menanamkan karakter positif dan pondasi keimanan yang kuat bagi seorang anak. Paling tidak inilah yang penulis temukan dalam diri seorang anak SD kelas 4 bernama Zaki.



Temuan ini berawal dari ketidak sengajaan penulis saat akan menunaikan solat ashar disebuah masjid di kota Batu. Ketika penulis memasuki masjid Badrussalam yang terletak disebelah hotel dan resort Wonderland, ada pemandangan yang menakjubkan yang dilihat penulis. Ditengah-tengah para jamaah yang sedang melaksanakan solat sunnah, pandangan penulis terfokus pada seorang anak lecil yang sedang membaca qur’an. Pemandangan seperti ini tentu menjadi menarik karena yang membaca quran itu anak kecil yang belum berusia baleg. Disaat yang bersamaan di zaman now, anak-anak sedang asyik bermain, tetatpi tidak demikian dengan Zaki ia asik membaca Qur’an sambil menunggu iqomat. Saat iqomat dikumandangkan, Zaki langsung mengambil shaf terdepan persis dibelakang imam. Penulis perhatikan sejenak Zaki memulai solatnya dengan khusyu’ dan diakhir solatnya ia berdoa dengan khusyu pula.

Selesai solat, penulis memberanikan diri untuk mengajak Zaki berbincang-bincang diteras masjid. Ada beberapa hal yang ditanyakan , antara lain namanya,rumahnya dimana dan tentu saja penulis ingin tahu siapa yang mengajari ia untuk membiasakan diri membaca Qur’an. Dengan lancer Zaki menjawab bahwa rumahnya terletak disebelah gang masjid,ia sebenarnya solat di masjid Badrussalam waktu ashar dan libur saja. Lalu ia bercerita bahwa guru ngajinya adalah pak Musholli, dialah yang menanamkan pada dirinya agar senantiasa membaca Qur’an. Saya berkata dalam hati, “ betapa beruntungnya pak Musholli anak didiknya mengamalkan ilmunya dan tentu saja ini adalah amal jariyah”. Penulis juga berfikir mudah-mudahan ratusan anak yang pernah saya ajari mengeja dan membaca Qur’an dulu dikampung ada yang seperti Zaki. Inilah yang penulis maksud dengan potensi amal jariyah, betapa dibalik kesederhanaan guru TPQ ia mampu mencetak generasi Islam seperti Zaki. Karena itu penghargaan Allah kepada guru TPQ adalah investasi akherat yang pahalannya seperti air yang mengalir tanpa henti. Hadits nabi berikut ini layak untuk direnungkan :
Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad:
عَنْ أبِى هُرَيْرَة (ر) أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ: إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ:
(صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)
Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Bergembiralah wahai para guru ngaji (sebutan orang banyak), sesunguhnya sederhananya kehidupan anda saat ini, telah Allah gantikan dengan pahala jariyah di saat anda meninggalkan dunia yang penuh kepalsuan ini, semog penulis adalah bagian dari anda.

Saat berpisah dari masjid penulis selipkan uang belanja, zaki menolaknya lalu penulis bilang “ terimalah, anggap sebagai hadiah, karena saya senang melihat anak-anak membaca Qur’an”. Lalu Zaki mengucapkan Alhamdulillah dan terima kasih. Zaki kemudian mencium tangan penulis sambil meminta doa agar ia bisa melanjutkan sekolahnya ke SMP 1 Batu, colek DIKNAS kota Batu. Jika membutuhkan informasi tentang Zaki silahkan hubungi 08155525332. 

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan